Selasa, 16 Oktober 2012

Berkat 12 Suku Israel



Berkat  12  Suku Israel

   
Inilah berkat ke Duabelas suku isreal berdasarkan firman Tuhan yang terkutib didalam 
kitab kejadian pasal 49 dan kitab ulangan pasal 33

  1. RUBEN
      Keperkasaan, melihat TUHAN, kehiudpan
   
  2. SIMEON
      Mendengar dan didengar Tuhan, karunia membedakan, ketaatan, kemauan yang kuat, keberanian

   3. LEWI
      Melekat dengan Tuhan, berkat keimaman, Mendahulukan Tuhan, mewarisi yang dari Tuhan.

   4. YEHUDA
    Memuji Tuhan, menjadi yang terpuji dan terhormat, mengalahkan setiap musuh, otoritas, tongkat kerajaan
    dan kepemimpinan, melihat dan melakukan dengan cinta dan pengorbanan, Auman singa dan menerima    
    jarahan.

   5. ZEBULON
   Kedalaman dan keintiman dengan Tuhan, perdagangan, melayari pulau-pulau (menjelajah), pengimjilan 
   kebangsa-bangsa.

   6. ISHAKAR
   Hikmat, mengerti dan bertindak sesuai dengan kairos Tuhan, belajar, bekerja keras, bertanggung jawab
   dan memiliki visi.

   7. GAD
   Ketentaraan dan kemiliteran, keberuntungan dan membalikan keadaan, pikiran kristus, perluasan wilayah
   dan keadilaan.

  8. ASYER
  Kelimpahan, karunia untuk menikmati, menyediakan hidangan bagi raja-raja, berjalan bersama Tuhan.

  9. NAFTALI
  Kemerdekaan dalam pergumulan, Haus dan lapar akan Tuhan, berbuah dan menyebarkan kabar baik.

  10. YUSUF dan EFRAIM.
  Hak kesulungan, keagungan, kepemimpinan, intigritas, perkenan Allah dan manusia, keberhasilan, 
  kerja keras, melampaui batas (jatah), tetap kuat, berbuah ganda, diperluas Tuhan, keintiman dengan Tuhan
  menikmati berkat terbaik dari langit, anak panah kemenangan, berkat antar generasi (turun - temurun)
  kedalaman, pikiran KRISTUS, menjadi yang teristimewa.

 11. MANASYE
 Berkat Yusuf, anugrah mengampuni dan diampuni.

 12. BENYAMIN.
 Dapat dipercaya, anugrah untuk melakukan 5 kali lipat, Gairah dan gelora, menjadi rumah kediaman Tuhan
 kemenangan, menaklukan musuh-musuh, menjarah dan membagikan jarahan.

Senin, 15 Oktober 2012

SHRK Januari 2012



SHRK Januari 2012 - Hari Ke-1


Anda bisa peka dan tajam mendengar suara Tuhan, namun itu bukan jaminan bahwa Anda mengenali isi hati-Nya. Seringkali Tuhan ingin membawa kita untuk lebih jauh lagi hanya bersama-Nya, menuju ke puncak-puncak yang begitu mulia, dan tidak jarang kita menolak kerinduan-Nya ini dengan berbagai alasan, dengan berbagai cara. Kita sudah merasa begitu lelah untuk meneruskan perjalanan, dan bahkan berani berkata "cukup" kepada-Nya, padahal yang kita lalui selama ini tidak dapat dibandingkan dengan apa yang telah menanti kita di puncak sana.

Tuhan adalah Pribadi yang berhitung dan Ia sangat menyukai angka. Bagi-Nya, angka 12 merupakan angka yang amat sakral. Kita bisa melihat adanya 12 suku Israel, 12 rasul pertama, 12 pintu gerbang, 12 bulan dalam setahun, dan seterusnya. Begitu juga tahun 2012 ini merupakan sesuatu yang amat menentukan, yang memang berbeda daripada tahun-tahun yang lalu.

"Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. Yesus berkata kepada mereka: 'Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan ... Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan ... Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.'" - Lukas 22:24-30


Akan tiba saatnya nanti bahwa hak-hak Kerajaan ditentukan bagi kita. Namun untuk itu kita harus daya tahan untuk tetap tinggal dan melalui segala pencobaan yang dialami sama oleh Tuhan Yesus. Pencobaan-pencobaan itu berasal dari Iblis yang menyiksa batin dan jiwa kita yang ujungnya meragukan segala janji-Nya sehingga tidak mencapai Puncak Penggenapan itu. Padahal Tuhan sedang menantikan kita semua Generasi Penggenap Janji untuk makan dan minum semeja di dalam Kerajaan-Nya dan duduk di atas takhta untuk menghakimi keduabelas suku Israel.


Renungkanlah akhir kisah kehidupan Lot di Kitab Kejadian pasal 19, ketika Tuhan hendak menyelamatkannya sekeluarga dari pemusnahan Sodom dan Gomora. Tangan mereka dipegangi dan tubuh mereka mulai diseret untuk diselamatkan karena Tuhan mengasihani mereka. Maka sadarilah ketika Tuhan mulai memaksakan kehendak-Nya, ketika Tuhan menghendaki kita berjalan lebih jauh lagi, naik lebih tinggi lagi, menyelami hati-Nya lebih dalam lagi, dan seterusnya, itu adalah karena Ia sedang mengasihani kita.


Namun sesampainya mereka di luar kota, dilepasnya tangan mereka. Tuhan bukan berkehendak melepas mereka, namun merekalah yang menolak tuntunan Tuhan. Jauh di dalam jiwa mereka ada pemberontakan terhadap tuntunan Tuhan. Demikian Tuhan dengan kita, jika kita terus memberontak terhadap proses yang harus kita hadapi, pada titik tertentu Tuhan harus melepas dan menyerahkan kita kepada pihak lain.


Kemudian Lot sekeluarga diminta untuk terus ke (puncak) pegunungan, dan petunjuknya jelas untuk tidak berhenti di mana pun juga di sepanjang Lembah Yordan. Tuhan ingin mereka naik karena sesungguhnys di pegungan, arah ke selatan, ada kota bernama Rehobot yang artinya kelegaan dan di tengahnya mengalir sungai Zered yang artinya bertumbuh dalam kegembiraan. Namun Lot masih berani menawar dan hanya bersedia sampai ke Zoar, sebuah kota kecil yang tidak berarti dengan alasan supaya selamat dari celaka. Padahal Tuhan telah menjamin perjalanan mereka sampai ke puncak pegunungan dengan tidak menurunkan murka-Nya lebih dulu sebelum mereka tiba. Itu artinya Tuhan menunggu mereka di tempat yang dikehendaki-Nya.


Dapatkah kita bayangkan betapa kecewa-Nya Tuhan, bahwa Ia menginginkan anak-anak-Nya memegang hak-hak Kerajaan, duduk makan dan minum semeja serta memerintah di atas takhta, namun lebih memilih untuk jadi penjaga pintu gerbang yang tak seberapa berarti, dan lebih konyol lagi kalau di antara anak-anak-Nya tanpa tahu diri malah bertengkar untuk mencari pengakuan manusia untuk sekedar diakui sebagai yang terbesar. 


Lot akhirnya menyadari Zoar tidak berarti, dan meninggalkan kota kecil itu, pergi ke pegunungan seperti yang ditunjukkan Tuhan sebelumnya. Namun apalah arti ketaatan yang terlambat? Ketaatan perlu ketepatan waktu, ketika dilakukan terlambat sama dengan ketidaktaatan (late obedience equal with disobedience). Karena pemberontakan dan kebebalannya bahkan Lot harus kehilangan Kairos Tuhan.


SHRK Januari 2012 - Hari Ke-2 Vol. 1


April 2012, setelah perayaan Paskah, Tim Bahtera beserta keenam hamba-Nya akan melakukan tur peperangan, pendudukan dan penjarahan ke Rusia. Misi kali ini dinamai To The Top, karena Tuhan berkata bahwa Rusia secara spiritual adalah otak dari seluruh kegiatan kejahatan yang ada di dunia. Bahkan pekerjaan negatif dari keenam panggilan (raja, mempelai, pekerja, pilar, imam dan tentara) berpusat di sana. Ini bukanlah suatu kebetulan, apalagi letak Rusia adalah di utara dan tidak ada negara lain yang lebih utara daripadanya. Tur dibagi dalam 3 kelompok yaitu Tim Peperangan, Tim Pendudukan serta Tim Pendamaian.

Dalam Kitab Injil Matius pasal yang ke-19 terdapat 4 tingkat kehidupan kekristenan yang dapat kita pelajari dan bersama Roh Kudus kita dapat merenungkan dan memngukur tingkat kehidupan kita dengan tepat dan terus mengusahakan berjuang untuk dibawa naik sampai kita mendapati 12 tahta yang telah disediakan Tuhan bagi kita.

Tingkatan yang pertama - "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian." - ayat 8. Tingkatan paling rendah kehidupan kekristenan biasanya adalah masih berbicara seputar yang diperbolehkan dan yang dilarang. Orang percaya yang di tingkatan ini sama sekali belum memiliki pengertian yang cukup. Hanya bisa melihat hitam dan putih dan tidak mengenali warna-warna lain dari kekayaan dan kemuliaan Tuhan. Juga tidak memiliki kerinduan untuk mengenali Tuhan lebih dalam lagi. Bagi mereka, jika diperbolehkan mereka melakukan, namun jika dilarang mereka mencoba menegosiasikan sampai mentok, barulah mentaati demi keamanan diri mereka sendiri.


Tingkatan kedua - "Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu." - ayat 13. Dapat disebut Kristen tingkat anak-anak. Cirinya adalah memiliki kerinduan yang besar akan berbagai hal-hal yang rohani. Namun pada tingkatan ini, orang percaya diharap untuk tidak malas, tidak tinggal diam setelah didoakan maupun memperoleh nubuatan, namun harus mampu mengembangkan dan melipatgandakan apapun berkat yang telah diterima dengan tekun terus mencari wajah Tuhan dan kehendak-Nya yang sempurna. Tingkat anak-anak ini juga identik dengan mentalitas yang masih mengandalkan hamba Tuhan ketimbang Tuhan sendiri walau secara rohani cukup peka.

Tingkatan ketiga - "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." - ayat 21. Pada tingkatan ini, kedewasaan orang percaya ditentukan dari 3 hal yaitu kemampuan menjual, kemampuan memberi dan kepengikutan kepada Tuhan Yesus. Kemampuan menjual dalam hal ini termasuk menjadi kesaksian bagi banyak orang.


Kita bersaksi kepada dunia bahwa Tuhan Yesus memberkati secara harta duniawi bagi kita, namun apakah benar kita telah memperlakukan uang maupun harta orang lain dengan benar? Apakah kita sudah bebas dari beban hutang? Kemampuan menjual juga berbicara tentang kemampuan raja-raja dalam hal bisnis dan usaha, termasuk kemampuan mengembangkan dan melipatgandakan. Begitu juga kemampuan memberi, apakah kita memberi dengan kikir atau memberi dengan ketepatan sesuai dengan kehendak Tuhan yang sempurna? Dan kepengikutan kepada Tuhan Yesus, masihkah kita memberontak atau tawar menawar atau mempertanyakan kehendak-Nya ketika Ia menghendaki kita berjalan ke jalan yang sama sekali asing bagi kita? Atau kita mentaati-Nya tanpa memikirkan untung rugi dan mempercayai Dia sepenuhnya?


Tingkatan tertinggi - "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal." - ayat 28-29. Tingkatan tertinggi berbicara tentang keberanian meninggalkan apapun juga sehingga hanya Tuhan dan tidak ada yang lain. Ketika kedagingan dan kebenaran diri sendiri mulai dimatikan secara total. Dibutuhkan kerelaan yang tulus dan totalitas yang utuh, rela untuk terus disempurnakan dan didewasakan sehingga mampu memerintah bersama dengan Tuhan dan mewarisi hak kesulungan secara total.

SHRK Januari 2012 - Hari Ke-2 Vol. 2

Pelajari dan renungkan kisah Tuhan Yesus ketika berusia 12 tahun pergi ke Yerusalem, ke Bait Allah di Kitab Injil Lukas pasal 2 ayat 41-52. Setidaknya ada 3 tanda kedewasaan Tuhan Yesus yang ditunjukkan saat itu bahkan ketika Ia baru menginjak usia remaja.

"Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya."



Tanda #1 - Sekalipun Ia terlepas dari orang tuanya selama 3 hari, namun Yesus tahu sepenuhnya ke mana Ia harus berada dan dengan siapa Ia harus bergaul. Pemazmur berkata bahwa berbahagialah orang yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Dan Yesus menggenapi Firman-Nya sendiri dengan sempurna. Tanda kedewasaan ditentukan dengan siapa kita bergaul. Pergaulan kita ikut menentukan destiny kita.


Tanda #2 - Ia mendengar, mengajukan pertanyaan dan memberikan jawaban yang penuh hikmat. Tanda kedewasaan kedua ditentukan oleh kemampuan untuk mendengar karena begitu sulit orang untuk mendengar namun begitu mudah orang meluapkan kata-katanya. Juga kemampuan bertanya dan menjawab, bahwa pertanyaan yang tepat akan menghasilkan jawaban yang tepat.


Tuhan Yesus adalah seorang ahli yang tahu dengan persis apa, kapan dan bagaimana sebuah pertanyaan harus disampaikan. Pepatah bijak mengatakan they who asking is leading, artinya siapa yang bertanya, dialah yang memimpin. Perhatikan bagaimana Yesus harus merespon berbagai pertanyaan, bahwa jarang sekali Ia langsung menjawab, dan biasanya akan dibalas dengan pertanyaan lainnya.

"Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia."

Tanda #3 - Kedewasaan Yesus ditunjukkan dengan kerendahan hati-Nya untuk mau diasuh oleh kedua orang tuanya, yang walaupun secara hikmat, pengertian dan kerohanian masih sangat jauh di bawah diri-Nya. Maria hanya bisa menyimpan dalam hati, namun Yesus mampu menjawab dengan penuh hikmat, namun demikian hal itu tidak menjadikan Ia sombong dan merasa lebih baik dari yang lain. Ia tetap mentaati tudung kedua orang tuanya saat itu, sampai Bapa sendiri yang memanggil0Nya keluar, sehingga Ia memperoleh baik perkenan Allah maupun manusia.


SHRK Januari 2012 - Hari Ke-3



"Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel." - Lukas 22:29-30


Tuhan memiliki gaya kerja yang terpola, Ia akan mengajak umat-Nya, pasukan-Nya, jendral-jendral-Nya dan raja-raja-Nya untuk bersantap semeja dengan-Nya kemudian barulah otoritas diberikan untuk melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan kehendak-Nya yang sempurna.


Perhatikan Firman berikut ini:

"Dan Yitro, mertua Musa, mempersembahkan korban bakaran dan beberapa korban sembelihan bagi Allah; lalu Harun dan semua tua-tua Israel datang untuk makan bersama-sama dengan mertua Musa di hadapan Allah. Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang." - Keluaran 18:12-13

Musa bersama Yitro, Harun dan semua tua-tua Israel bersantap bersama di hadapan Allah (semeja dengan Tuhan) kemudian keesokan harinya Musa dengan segala otoritas yang ada padanya melakukan tugas mengadili bangsa Israel. Pola ini ada di zaman Perjanjian Lama dan terus ada di Perjanjian Baru:

"Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya." - Wahyu 3:19-20.

Ini sungguh merupakan pola Kerajaan Allah, makan dan minum semeja dengan Tuhan kemudian otoritas diberikan untuk memerintah bersama dengan-Nya. Pola ini berurutan, jadi sebelum kita dinilai pantas untuk memperoleh otoritas, Tuhan akan mengajak kita untuk bersantap SEMEJA. Pertanyaannya adalah apa yang dimaksud dengan makan dan minum satu meja dengan Tuhan?

Kata "meja" dalam bahasa Yunani adalah TRAPEZA, yang juga artinya bank atau meja penukaran uang yang menghasilkan keuntungan atau pelipatgandaan. Jadi Tuhan mengajak kita umat-Nya untuk memiliki harta yang satu bank bahkan satu account / rekening yang sama dengan Dia. Ia ingin kita memiliki kekayaan dan kelimpahan yang sama dengan Dia.

Perhatikan kisah di Kitab Injil Yohanes pasal 21, dimana Yesus menampakkan diri-Nya untuk ketiga kalinya kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit di antara orang mati. Simak dengan seksama alur ceritanya. Saat itu murid-murid sedang berusaha menangkap ikan namun tidak mendapat hasil sama sekali, dan Tuhan muncul sambil bertanya, "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Dan mereka menjawab, "Tidak ada."

Perhatikan bahwa Tuhan Yesus TIDAK BERTANYA, "Berapakah hasil tangkapanmu?" Karena Ia sebenarnya telah menyiapkan lauk pauk tersebut bagi murid-murid-Nya. "Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti." - ayat 9. Ikan yang sedang dibakar itu bukan ikan hasil tangkapan murid-murid, melainkan yang telah disediakan Tuhan. Selanjutnya Tuhan tetap meminta untuk dibawakan beberapa ikan lagi untuk dibakar, setelah itu murid-murid diajak sarapan dengan ikan yang telah dipersiapkan Tuhan Yesus sebelumnya.

Inilah yang dimaksud "semeja dengan Tuhan" yaitu sesungguhnya Tuhan telah menyediakan dan menyiapkan segala sesuatunya bagi kita dalam kekayaan, kelimpahan dan kemuliaan-Nya, namun Ia ingin kita mempercayai-Nya dengan memberikan apa yang ada pada kita, yang sesungguhnya itu pun adalah pemberian-Nya juga. Jadi jika masih ada di antara kita yang menahan apalagi sampai bergumul akan sesuatu yang Ia minta dari pada kita, betapa memalukan dan mengerikan kenyataan itu!

"Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: 'Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?' Jawab Petrus kepada-Nya: 'Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.' Kata Yesus kepadanya: 'Gembalakanlah domba-domba-Ku.'" - ayat 15.


Dan setelah makan dan minum bersama dengan Tuhan, Simon Petrus juga dengan murid-murid lainnya menerima otoritas dan mandat untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Pola kerja-Nya tetap sama, dan inilah pola kerja Kerajaan Allah.


Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus

SHRK Februari 2012



SHRK Februari 2012 - Hari Ke-1 Vol. 1

"Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus. Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain. Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya. Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu." - 2 Timotius 2:1-7


Rasul Paulus menasehati Timotius untuk terus menerus menjadkuat dengan cara tetap tinggal dalam kasih karunia yang terkandung dalam Kristus Yesus. Karena di dalam kasih karunia tersebut terkandung kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat atau yang disebut dalam bahasa Yunani adalah dunamis. Ini adalah kasih karunia atau dunamis yang sama yang difirmankan kepada jemaat Korintus untuk tidak disia-siakan –

"Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima." - 2 Korintus 6:1.

Tindakan untuk terus menerus tinggal dalam kasih karunia digambarkan Rasul Paulus dengan analogi dari cara hidup Tentara Romawi dan Olahragawan zaman itu, dimana keduanya hidup disiplin sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada. Tentara Romawi dilatih dan ditempa untuk sangat ahli dan jago dalam pertempuran, sehingga mereka merupakan salah satu jenis tentara yang terkenal paling kuat karena ketrampilan atau skill berperang individunya. Tingkat kedisiplinan mereka juga ditunjukkan dari baju zirah mereka yang sangat kokoh dan rapat di bagian dada depan, namun kosong di bagian punggung belakang.

Tujuan dari rancangan baju zirah yang demikian; pertama, supaya sesama tentara saling melindungi bagian belakang temannya sehingga mereka tetap kompak menghadapi musuh; ke-dua, supaya ketika ada salah seorang tentaranya mundur dari medan pertempuran (desersi), baik komandan maupun temannya diperbolehkan membunuh tentara yang mundur tersebut karena dinilai dapat menjatuhkan mental pasukan lain dalam menghadapi musuh mereka saat itu. Sebagai tentara yang berdedikasi tinggi, mereka juga tidak diperkenankan untuk nyambi atau memiliki profesi lain selain sebagai tentara. Jika mereka sebagai tentara namun juga berdagang misalnya, dan dalam kegiatan dagang mereka berhubungan dengan pihak musuh, maka akan terjadi conflict of interest di dalam integritas mereka sebagai tentara.

Pada saat tidak berperang, Tentara Romawi tetap memelihara ketangkasannya dengan menjadi Olahragawan, terutama gulat dan tinju. Ketika ada kesempatan, mereka ikut dalam pertandingan sebagai Olahragawan sesuai dengan peraturan pertandingan yang berlaku. Dan peraturan serta kedisiplinan sebagai seorang Olahragawan tidak kalah ketatnya dengan kedisiplinan ketentaraan mereka. Hal itu di antaranya adalah pengawasan untuk tidak menyuap juri / hakim pertandingan, porsi-porsi latihan yang berat dan padat, tidak boleh melakukan hubungan seks selama sebulan penuh sebelum bertanding, dan sebagainya.

Baik peraturan-peraturan ketentaraan maupun sebagai olahragawan harus ditaati oleh mereka semua untuk menjaga agar mereka tetap dalam kondisi yang prima dan siaga, baik di medan pertempuran maupun di arena pertandingan. Demikian pula Gereja Tuhan untuk terus menerus tetap tinggal dalam kasih karunia dan tidak menyia-nyiakan kuasa dunamis yang ada di dalamnya, Tuhan menghendaki supaya kita semua memiliki tingkat kedisipinan yang sama dengan Tentara Romawi, supaya kita didapati berkenan di hati Komandan kita.


SHRK Februari 2012 - Hari Ke-1 Vol. 2

"Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga." - 2 Timotius 2:4-5

Peraturan-peraturan yang dibuat merupakan batasan-batasan yang keberadaannya dapat menjaga seseorang dari hal-hal yang bahkan fatal. Seorang tentara yang taat pada peraturan-peraturan akan berpeluang besar untuk menang dalam setiap pertempuran. Demikian juga seorang olahragawan yang taat pada semua rambu dan bentuk disiplin yang diterapkan oleh pelatihnya, ia juga berpeluang besar untuk menjadi juara dalam setiap pertandingan.

Peraturan merupakan garis batas yang menunjukkan HABITAT untuk kita bisa hidup, tumbuh dan mencapai keberhasilan sesuai dengan kehendak-Nya. Sebaliknya, barangsiapa yang sering melanggar peraturan, itu berarti melanggar garis batas dan keluar dari habitatnya sehingga orang tersebut tidak dapat hidup sesuai dengan yang seharusnya.

Khususnya bagi Gereja Tuhan minimal ada 7 batasan yang ditetapkan Tuhan supaya kehendak-Nya menjadi sempurna di setiap Gereja-Nya:

1.      Batasan Jenis Pelayanan
"Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: 'Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya.'" - Roma 15:18-21.

 Jika setiap Gereja Tuhan di Indonesia mentaati batasan pertama ini saja, maka seharusnya Lawatan Besar telah terjadi sekian tahun yang lalu. Namun berapa banyak Gereja saling memperebutkan domba-domba yang ada, alih-alih mencari domba-domba baru. Memiliki kecenderungan besar untuk memperebutkan sesama orang Kristen sedangkan tuaian begitu banyak. Sementara Rasul Paulus melayani dengan kehormatan tinggi untuk tidak mengajak domba-domba orang lain, melainkan menuai sebanyak mungkin dari tuaian-tuaian baru.

2.      Batasan Wilayah

"Memang kami tidak berani menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka! Sebaliknya kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga. ... Ya, kami hidup, supaya kami dapat memberitakan Injil di daerah-daerah yang lebih jauh dari pada daerah kamu dan tidak bermegah atas hasil-hasil yang dicapai orang lain di daerah kerja yang dipatok untuk mereka." 2 Korintus 10:12-16.

Masing-masing Gereja-Nya diharapkan untuk bergerak sesuai dengan visi yang Tuhan tetapkan sejak semula. Visi masing-masing Gereja sangat beragam dan menciptakan batasan serta fokus masing-masing untuk masing-masing bidang. Batasan dan fokus tersebut bisa berupa wilayah cakupan pelayanan, jenis panggilan yang diterima, jenis talenta yang tertanam sejak semula, bahkan termasuk otoritas kepemimpinan yang Tuhan tetapkan. Perubahan batasan wilayah pelayanan yang tidak didasari oleh kehendak Tuhan melainkan kedagingan kita sendiri dapat berakibat fatal hingga keluar dari habitat yang seharusnya.

3. Batasan Ketinggian

- "Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: 'Jangan melampaui yang ada tertulis', supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?" - 1 Korintus 4:6-7.

Alangkah indahnya jika Gereja tidak perlu membanding-bandingkan siapa yang terbesar di antara kita semua. Saling menghargai satu sama lain, dan menganggap yang lain jauh lebih penting daripada dirinya sendiri. Namun akan kelihatan konyol jika salah satunya menjadi yang terbesar bukan karena tuaian baru, melainkan merebut dari sesama saudaranya. Dan jauh lebih konyol lagi jika Gereja baik secara korporat maupun individu ketika telah dipercayakan begitu banyak malah menjadi sombong dan menganggap dirinya lebih penting daripada yang lain. Menjadi semakin tahu diri dan tetap menganggap orang lain lebih penting daripada diri sendiri akan memelihara hidup kita untuk tinggal dalam habitat yang telah ditetapkan-Nya.



SHRK Februari 2012 - Hari Ke-2 Vol. 1


Sesi kotbah hari ini didahului dengan cerita Pdt. Petrus Agung Purnomo semalam. Berikut kilasan ceritanya; saat itu beliau beserta rombongan sebanyak 2 bus telah menyelesaikan tugas di atas gunung dan sedang jalan balik ke bawah. Di tengah jalan, rombongan tersebut menjumpai segerombolan orang dalam jumlah sangat banyak dan gerombolan tersebut mengenakan pakaian perang Tentara Romawi. Tepat di tengah gerombolan tersebut,

Pak Agung melihat Tuhan Yesus memikul kayu salib sambil kelihatan seperti mencari-cari seseorang atau sesuatu. Ketika Tuhan Yesus masih mencari-cari, pandangan-Nya beradu dengan mata Pak Agung. Tatapan mata-Nya yang berbeda itu menyirat bahwa Ia sedang mencari dua pribadi. Yang pertama seorang gembala gereja dari Yogyakarta, yang seorang lagi adalah supirnya Ev. Iin Tjipto. Selain itu Tuhan Yesus juga berpesan khusus, "Beritahu ayahmu (Ev. Yusak Tjipto), bahwa masih ada beberapa tugas lagi yang harus ia selesaikan." Dicari-Nya gembala dari Yogyakarta tersebut diyakini beliau bahwa Lawatan Besar yang akan terjadi dalam waktu dekat ini akan diawali dari sana dan berlanjut ke seluruh Nusantara hingga ke seluruh penjuru dunia.

"Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima." - 2 Korintus 6:1.

 Tanda orang menyia-nyiakan anugerah adalah bahwa kehidupan, pelayanan dan apapun yang ada padanya tidak memberi efek atau dampak yang kuat yang mampu mengubah lingkungan di sekitarnya.  Berikut adalah batasan-batasan lainnya:

4. Batasan Panggilan -
"Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan." - 2 Tawarikh 26:16.

Uzia yang saat itu telah menjadi kuat, menjadikan ia sombong dan merasa layak sampai-sampai hendak terlibat dan mengatur pelayanan keimaman yang bukan menjadi bagiannya. Sama halnya dengan banyak orang percaya yang sudah diberkati sedemikian rupa terutama secara keuangan, merasa berhak mengatur tata cara dan segala sesuatunya dalam organisasi gereja lokalnya, yang bahkan bukan bagiannya untuk memberikan pendapat tanpa ditanya.

5. Batasan Iman
"Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing." - Roma 12:3.

 Tuhan menghendaki untuk kita semua mengenal dengan benar akan diri kita sendiri dan kemampuan iman kita. Ada ukuran iman yang harus dikenali supaya dalam setiap hal kita tidak terjebak dalam pemaksaan kehendak kita sendiri. Ada yang memang patut memikirkan perkara puluhan juta rupiah, janganlah memaksakan perkara yang kelasnya miliaran rupiah.

6. Batasan Pengurapan (Otoritas)
"Datanglah Daud dengan Abisai kepada rakyat itu pada waktu malam, dan tampaklah di sana Saul berbaring tidur di tengah-tengah perkemahan, ... Kiranya TUHAN menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi TUHAN. Ambillah sekarang tombak yang ada di sebelah kepalanya dan kendi itu, dan marilah kita pergi." - 2 Samuel 26:7-11.

 Daud sangat disusahkan oleh pengejaran Saul yang sedemikian agresif. Ia pernah melepaskan Saul satu kali, namun Saul makin menggila untuk membunuh Daud. Namun hal itu tidak menjadikan Daud merasa berhak untuk bertindak semaunya. Daud mengenal batasan pengurapan juga paham benar bahwa pembalasan hanyalah hak-Nya Tuhan.

7. Batasan Kenikmatan
"Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat." - Roma 16:19.

Berkat diberikan memang untuk dinikmati, namun nikmatilah berkat dalam kebijaksaan. Ada orang yang suka akan suatu barang tertentu, dan orang tersebut malah membuat ikatan dengan kesukaannya hingga di luar kewajaran, misal mengoleksi tas, jam tangan maupun berbagai aksesoris lainnya sedemikian banyak namun hanya untuk dikoleksi dan BUKAN dipergunakan sehari-hari. Hal ini jelas tidak bijaksana bahkan menjadikan berkat sebagai batu sandungan.

Selalu ingatkan diri kita sendiri bahwa Tuhan TANPA kita akan tetap mampu merampungkan semua kehendak-Nya dengan sempurna. Dengan demikian kita tidak terjebak dalam perasaan merasa layak dan senantiasa semakin tahu diri bahwa sesungguhnya kita hanyalah hamba-hamba yang tiada berguna.


SHRK Februari 2012 - Hari Ke-2 Vol. 2


"Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain." 2 Timotius 2:2

Untuk Tuhan dapat dipercaya seseorang itu adalah tanggung jawab-Nya. Namun untuk seseorang dapat dipercaya Tuhan itu adalah tanggung jawab orang tersebut. Kualifikasi "dapat dipercayai" yang Tuhan kehendaki untuk Gereja-Nya berjalan seirama sepanjang 2012 ini adalah:
  1. Bahwa Gereja-Nya mampu dipercaya secara karakter.
  2. Bahwa Gereja-Nya mampu dipercaya secara kemampuan / kapasitas.
  3. Bahwa Gereja-Nya mampu dipercaya menyelesaikan semua tugas dengan penuh tanggung jawab.
Sedangkan kualifikasi "cakap mengajar" yang Tuhan kehendaki adalah:

1. Kemampuan untuk memuridkan. Kemampuan memuridkan hanya bisa diperoleh dari hati yang terbiasa dan rela untuk dididik dan dimuridkan sesuai dengan kehendak Tuhan sepanjang hidupnya. Seseorang yang tidak rela untuk dimuridkan maupun yang berhenti untuk terus dididik Tuhan, tidak akan mampu memuridkan orang lain dengan benar.

2. Kemampuan membangun tim. Cakap mengajar juga ditentukan dari cara seseorang mampu bekerja sama dengan orang lain. Dan bekerja sama dengan orang lain membutuhkan banyak hal terutama hati hamba. Dengan demikian kemampuan membangun tim ditentukan dari kerendahan hati orang tersebut.

4.      Kemampuan mendelegasikan. Ada banyak Gereja yang pergi memberitakan Injil, namun banyak di antaranya yang gagal dan tidak memberi dampak. Hal ini karena banyak Gereja yang gagal menangkap passion Tuhan, kegairahan yang ada di dalam hati-Nya. Banyak Gereja lebih mementingkan tuaian daripada Empunya tuaian.


SHRK Februari 2012 - Hari Ke-3

"Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya. Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu." - 2 Timotius 2:7

Setelah mempelajari peraturan-peraturan sebagai tentara dan olahragawan, kita belajar menjadi petani yang baik dan benar. Petani menabur untuk mendapatkan tuaian. Dan Ishak adalah seorang penabur yang berkenan.

"Maka timbullah kelaparan di negeri itu. ... Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. ... Jadi tinggallah Ishak di Gerar." - Kejadian 26:1-6

Kejadian terulang, bencana kelaparan melanda, persis seperti zaman Abraham hidup. Saat itu Ishak hendak mengungsi ke Mesir, juga seperti Abraham dulu. Namun Tuhan melarangnya. Karena walau kelemahannya sama jeleknya dengan ayahnya, namun iman Ishak tidak sebesar Abraham. Dan hal ini dibuktikan ketika Ishak dan Ribka hendak bertemu dengan Abimelekh, persis seperti Abraham dan Sara bertemu Firaun. Beruntungnya Abimelekh adalah orang yang saleh. Akhirnya Ishak mentaati Tuhan untuk tinggal di Gerar, dan karena ketaatannya, ia memperoleh 3 hal; penyertaan Tuhan, berkat Tuhan dan bahkan mendapatkan tanah negeri yang dimana awalnya ia datang sebagai orang asing.

"Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya." - Kejadian 26:12-14

Ishak diberkati sedemikian rupa hingga menjadi "ancaman" bagi penguasa setempat. Berkat yang Ishak terima mengandung faktor percepatan, sama bahkan yang akan kita terima lebih dipersingkat lagi jarak antara kita menabur dengan kita menuai. Ishak yang menjadi "ancaman" merupakan pertanda baik, pertanda bahwa memang Tuhan menyertai dan sangat memberkatinya.

"Lalu kata Abimelekh kepada Ishak: 'Pergilah dari tengah-tengah kami sebab engkau telah menjadi jauh lebih berkuasa dari pada kami.' Jadi pergilah Ishak dari situ dan berkemahlah ia di lembah Gerar, dan ia menetap di situ. ... Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya. Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: 'Air ini kepunyaan kami.' Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana. Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna." -  Kejadian 26:16-21

Saking takutnya maka Abimelekh mengusir Ishak. Dan dengan ikhlas Ishak pergi berpindah ke tempat lain. Gangguan tidak sampai di situ saja. Dua kali Ishak menggali sumur bekas galian ayahnya - Esek dan Sitna - dan keduanya sengaja ditutup oleh para gembala setempat. Ishak tidak ngotot dan berperkara untuk mempertahankan apa yang dia miliki, baginya jika hal itu adalah jatahnya, itu tetap akan menjadi miliknya. Hal ini sama seperti Kristus yang tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan (Filipi 2:6).

"Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, ... Dari situ ia pergi ke Bersyeba. Lalu pada malam itu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu." Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN (Jehova). ... Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. ... Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang." - Kejadian 26:22-33

Akhirnya Ishak memperoleh Rehobot yang artinya kelegaan dan juga Bersyeba hingga Tuhan menyatakan diri-Nya "muka dengan muka" kepada Ishak dan ia memanggil-Nya, "Jehova." Pernyataan Tuhan menjadikan bukti yang jelas hingga Abimelekh yang awalnya mengusir dia, datang kembali untuk berdamai dan hendak mengadakan perjanjian persahabatan. Abimelekh membawa 2 orang lainnya, Ahuzat - artinya kepemilikan (possession) dan Pikhol - artinya mulut atas segalanya (mouth of all). Jadi Ishak hidup sebagai penabur yang benar, taat dan setia hingga Tuhan menyertai dan memberkatinya sedemikian rupa namun ia tetap bersikap rendah hati dan percaya akan janji Tuhan dan sebagai balasannya, ia menjadi semakin diberkati lebih lagi hingga semua bentuk kepemilikan dan mulut semua orang mengakui bahwa Tuhan sungguh menyertai dan berpihak kepadanya. Demikian juga seharusnya Gereja Tuhan bersikap sebagai penabur juga penuai yang benar di hadapan Tuhan.